Museum Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta

Museum Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta Bangunan Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta terletak di Kecamatan Gondomanan, perbatasan sebalah Timur adalah Jalan Malioboro, sebelah Barat  adalah Jalan Bhayangkara, Sebelah Utara adalah jalan jalan Reksobayan dan Sebelah Selatan adalah Jalan KH. Ahmad Dahlan.

museum-istana-negara-gedung-agung-yogyakarta
museum-istana-negara-gedung-agung-yogyakarta

Koleksi                                          

  1. Koleksi Arca dari berbagai candi di Indonesia
  2. Lukisan Seniman Indonesia

Beberapa Istana Kepresidenan RI

  1. Bina Graha
  2. Istana Bogor
  3. Istana Cipanas
  4. Istana Merdeka
  5. Istana Negara
  6. Istana Tampaksiring
  7. Istana Yogyakarta

Kantor & kediaman resmi Presiden

Istana Yogyakarta atau Gedung Agung, sama halnya dengan istana Kepresidenan lainnya yaitu sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Selain itu juga sebagai tempat menerima atau menginap tamu-tamu negara. Sejak 17 Agustus 1991, istana ini digunakan sebagai tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan penyelenggaraan Parade Senja setiap tanggal 17 yang dimulai 17 April 1988.

Kompleks bangunan

Istana Yogyakarta terdiri atas enam bangunan utama yaitu Gedung Agung (gedung utama), Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu dan Wisma Saptapratala. Gedung utama yang selesai dibangun pada 1869 sampai sekarang bentuknya tidak mengalami perubahan. Ruangan utama yang disebut dengan Ruang Garuda berfungsi sebagai ruangan resmi untuk menyambut tamu negara atau tamu agung yang lain. Selain wisma-wisma tersebut sejak 20 September 1995 komplek Seni Sono seluas 5.600 meter persegi, yang terletak di sebelah selatan, yang semula milik Departemen Penerangan, menjadi bagian Istana Kepresidenan ini.

RIWAYAT

Gedung utama kompleks istana ini mulai dibangun pada Mei 1824. Pembangunannya diprakarsai oleh Antho-nie Hendriks Smissaert, Residen Yogyakarta yang ke-18 (1823-1825), yang menghendaki adanya “istana” yang berwibawa bagi residen-residen Belanda. Arsiteknya ialah A Payen, yang ditunjuk oleh gubernur-jenderal Hindia-Belanda pada masa itu. Arsitektur bangunannya mengikuti arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis. Pembangunan gedung itu tertunda oleh pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830), yang oleh Belanda disebut Perang Jawa. Pembangunan diteruskan setelah perang itu berakhir dan selesai pada 1832. Pada 10 Juni 1867, kediaman resmi residen Belanda itu ambruk karena gempa bumi yang menerjang Yogyakarta dua kali pada hari itu. Bangunan baru pun didirikan dan selesai pada 1869. Bangunan inilah yang menjadi gedung utama kompleks istana kepresidenan Yogyakarta yang sekarang, yang disebut juga Gedung Negara.

Pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi. Penguasa tertinggi Belanda bukan lagi residen, melainkan gubemur. Dengan demikian, gedung utama yang selesai dibangun pada 1869 tersebut menjadi kediaman para gubemur belanda di Yogyakarta sampai masuknya Jepang. Para gubernur Belanda yang mendiami istana ini adalah: J E Jasper (1926-1927), P R W van Gesseler Verschuur (1929-1932), H M de Kock (1932-1935), J Bijleveld (1935- 1940) dan L Adam (1940-1942). Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi Koochi Zimmukyoku Tyookan, penguasa Jepang di Yogyakarta.

Arti Gedung Agung menjadi lebih penting dengan hijrahnya Pemerintah Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada 6 Januari 1946, Kota Gudeg ini resmi menjadi ibu kota baru Republik Indonesia yang masih muda dan istana itu berubah menjadi istana kepresidenan, tempat tinggal Presiden Soekarno, Presiden yang pertama, beserta keluarganya. (Wakil Presiden Mohammad Hatta dan keluar-ga ketika itu tinggal di gedung yang sekarang ditempati Korem 072/Pamungkas, tidak jauh dari kompleks istana.) Sejak tanggal tersebut istana kepresidenan Yogyakarta menjadi saksi peristiwa-peristiwa kenegaraan yang penting. Di antaranya, seperti yang disinggung di atas, adalah pelantikan Jenderal Soedirman sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juni 1947 serta sebagai Pucuk Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia pada 3 Juli 1947. Lima kabinet republik yang masih muda itu pun dibentuk dan dilantik di istana ini.

Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda di bawah pimpinan Jenderal Spoor. Presiden, Wakil Presiden, Perdana Menteri beserta beberapa pembesar yang lain diasingkan ke luar Jawa dan baru kembali ke Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Sejak tanggal itu istana berfungsi lagi sebagai tempat kediaman resmi Presiden. Namun, sejak 28 Desember 1949, yaitu dengan berpindahnya Presiden ke Jakarta, istana ini tidak lagi menjadi tempat tinggal sehari-hari Presiden.

FUNGSI

Fungsi utama Istana Yogyakarta atau Gedung Agung, seperti halnya fungsi istana kepresidenan yang lain, adalah sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Fungsi yang lain adalah sebagai tempat menerima atau menginap tamu-tamu negara. Sejak 17 Agustus 1991, istana ini juga digunakan sebagai tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Mulai 17 April 1988, di tempat ini diselengga-rakan upacara parade senja setiap tanggal 17. Perkenalan taruna-taruna Akabri Udara yang baru sekaligus perpisahan para perwira muda yang baru lulus dengan Gubernur dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dilaksanakan pula di Gedung Agung. Sampai sekarang sudah lebih dari 65 kepala negara, kepala pemerintahan dan tamu-tamu agung telah mengun-jungi atau menginap di Gedung Agung. Di antaranya adalah: Presiden Rajendra Prasad dari India (1958), Raja Bhumibol Adulyadej dari Muangthai (1960), Presiden Ayub Khan dari Pakistan (1960), Perdana Menteri Ferhart Abbas dari Aljazair (1961), Presiden D Macapagal dari Filipina (1964), Perdana Menteri Pierre Trudeau dari Kanada (1971), Ratu Elizabeth II dari Inggris (1974), Perdana Menteri E G Whitlam dari Australia (1974), Perdana Menteri Srimavo Bandaranaike dari Sri-Lanka (1976), Perdana Menteri Lee Kuan Yew dari Singapura (1980), Yang Dipertuan Sultan Bolkiah dari Negara Brunei Darussalam (1984), Presiden F Mitterand dari Perancis (1986), Perdana Menteri Mahathir Mohammad dari Malaysia (1988), Kepala Gereja Katolik Sri Paus Paulus Johannes II (1989), Yang Dipertuan Agung Sultan Azlan Shah dari Malaysia (1990), Kaisar Akihito dari Jepang (1991).

Tamu-tamu penting Iain yang pemah beristirahat di Gedung Agung antara lain Putri Sirindhom dari Muangthai (1984), Pangeran Charles bersama Putri Diana dari Inggris (1989), Ny. Marilyn Quayle, isteri Wakil Presiden Amerika Serikat (1984) dan Putri Basma dari Yordania (1996).

 

BAGIAN-BAGIAN

Istana Yogyakarta terdiri atas enam bangunan utama, yaitu Gedung Agung (gedung utama), Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu dan Wisma Saptapratala. Nama empat wisma terakhir itu masing-masing diambil dari epik Mahabarata. Di samping wisma-wisma itu sejak 20 September 1995 kompleks Seni Sono seluas 5.600 meter persegi, yang terletak di sebelah selatan, yang semula milik Departemen Penerangan, menjadi bagian istana kepresidenan ini. Gedung utama atau bangunan induk kompleks istana ini berbentuk sama seperti ketika selesai dibangun pada 1869. Ruangan utamanya disebut Ruang Garuda dan berfungsi sebagai ruangan resmi untuk menyambut tamu negara atau tamu agung yang lain. Di ruangan ini pulalah kabinet Republik Indonesia dilantik, ketika ibu kota negara berpindah ke Yogyakarta. Di dinding ruangan yang berseja-rah ini tergantung gambar-gambar pahlawan nasional. Di antaranya adalah gambar Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini dan Tengku Cik Di Tiro. Di sisi selatan gedung utama terletak kamar tidur Presiden beserta keluarga, sedangkan di sisi utara terletak kamar tidur yang disediakan bagi Wakil Presiden beserta keluarga dan bagi tamu negara atau tamu agung yang lain beserta keluarga.

Demikian jika berminat silahkan agendakan untuk berkunjung.

Sumber dari

http://kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id/presidential_palace/subpage/?box=detail&id=7

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=10167

https://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Agung

Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta

Museum Istana Negara Gedung Agung, Pendiri Istana Negara Gedung Agung, Koleksi Istana Negara Gedung Agung, Objek Studi Wista, Tempat Studi Wisata, Objek Studi Tour Kerjakan PR Online Mudah, Bantuan Kerjakan PR, Pahami Dalam Kerjakan PR , Privat Guru Online, Guru Online, Privat Online Indonesia, Belajar Privat Online, Privat Online Jogja. Les  Privat (Belajar Mandiri) Mapel SMA/MA/SMK Mapel  SMA MA SMK dan Bahasa Daeraj (Jawa) Les Privat (Belajar Mandiri) Bahasa Asing (Inggris, German, Mandarin). Privat Karyawan English Conversation, Mahasiswa Inggris persiapan kerja.

Museum Situs Majapahit di UGM

Berikut ini beberapa artikel terkait dengan Museum Situs Majapahit di UGM. Jika ingin melihat lebeh jelas bisa datang ke UGM atau kunjungi link sumber terkait dibawah.

museum-situs-majapahit-di-fib-ugm
museum-situs-majapahit-di-fib-ugm

Fakultas Ilmu Budaya dan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) meresmikan Mandala Majapahit (ManMa) di Gedung Margono Lantai Satu, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Pembangunan ManMa untuk mendukung usaha pelestarian budaya nusantara dan kegiatan penelitian dan belajar mengajar ilmu arkeologi di kampus UGM.

Privat Guru Online, Guru Online, Privat Online Indonesia, Belajar Privat Online, Privat Online Jogja. Privat Belajar PR Online, Kerjakan PR mudah, Bantuan Kerjakan PR, Pahami Dalam Kerjakan PR, Les Privat (Belajar Mandiri) CALISTUNG untuk PAUD, TK, SD Kelas 1,  Materinya adalah Dasar-dasar Membaca, Cara Membaca, Menulis Huruf, dan Berhitung. Les Privat (Belajar Mandiri) UM PNS ujian masuk CPNS ujian pengawai negeri. Materi kemampuan dasar, pengetahuan umum.

Dekan FIB Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A mengatakan beragam penelitian dari peneliti lokal dan mancanegara sangat banyak tentang peninggalan Kerajaan Majapahit. Sayangnya hasil penelitian ini tidak banyak yang mudah diakses oleh masyarakat. “Dengan keberadaan Mandala Majapahit, diharapkan akses menjadi luas sehingga pemahaman tentang situs Majapahit di Trowulan semakin meningkat,” ujar Pujo usai peresmian ManMa di FIB UGM, Jumat (5/12).

Selain sebagai pendukung utama kegiatan penelitian dan belajar mengajar keilmuwan arkeologi, kata Pujho, keberadaan artefak Majapahit ini menambah dorongan bagi civitas akademika untuk berpartisipasi aktif  dalam melengkapi berbagai data dan hasil penelitian mengenai tinggalan Majapahit. “Peninggalan sejarah semacam ini sangat penting bagi terpeliharanya budaya bangsa,” katanya.

Hasyim Djojohadikusumo, ketua Yayasan YAD mengatakan pelestarian budaya merupakan salah satu misi YAD sejak tahun 2008 dengan memulai kegiatan Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI) di Trowulan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Arkeologi dari empat perguruan tinggi yaitu UI, UGM, Universitas Udayana, dan Universitas Hasanuddin. “Saya berjanji akan mendukung kegiatan PATI seterusnya agar rakyat Indonesia bangga dengan peradabannya di masa lampau,” ujar Hasyim.

Mandala Majapahit ini, kata Hasyim, diharapkan menjadi wadah bagi keberagaman data, hasil penelitian, dan informasi tentang pusaka Kerajaan Majapahit dari berbagai sumber. ManMa pun diharapkan bisa menjadi wadah bagi para peneliti, pemerhati, pecinta dan praktisi pelestarian dalam mengembangkan beragam kegiatan sosial, budaya, ekonomi guna melestarikan budaya dan kearifan. “Majapahit sangat berperan mempersatukan nusantara dengan menjadi penguasa Asia Tenggara, kita patut berbangga sebagai anak bangsa,” tuturnya (Humas UGM/Izza)
Museum bernama Mandala Majapahit tersebut diresmikan oleh pemilik Yayasan Arsari, Hasjim Djojohadikusumo, Jumat, 5 Desember 2014. “Ini untuk berikan inspirasi mengenai Majapahit di kalangan mahasiswa dan akademikus,” kata Adik Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subiato itu di sela peresmian.

Sebelumnya, yayasan milik Hasjim juga membangun Mandala Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur pada Juni lalu. Pembangunan itu merupakan kelanjutan dari program Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia yang dimodali oleh yayasan milik Hasjim. Riset itu berlangsung sejak 2008 dan melibatkan sejumlah peneliti dari Universitas Indonesia, UGM, Universitas Udayana dan Universitas Hasanuddin.

Museum itu terletak di lantai I Gedung Margono Djojohadikusumo FIB UGM. Luasnya hampir menyerupai lapangan bulu tangkis. Lokasinya merupakan bekas ruangan perangkat komputer di FIB UGM.

Sebagian dinding dan lantainya berupa batu bata merah tanpa pelapis. Pintu museum terbuat dari kayu jati kuno yang tidak diperbaharui cat pliturnya. Belasan papan kayu jati berusia tua juga dipasang membentuk panggung kecil di salah satu sisi ruangan.

Di sana, banyak buku, skripsi serta tesis karya mahasiswa dan akademikus UGM mengenai arkeologi Majapahit. Sementara, artefak paling mencolok ialah replika Situs Segaran II berupa tempat mandi di masa Majapahit. Sebagian batu bata di replika situs itu merupakan peninggalan asli kerajaan Majapahit di Trowulan.

Di sana, ada banyak contoh artefak gerabah berukuran mungil berupa babi, kepala orang, celengan dan belasan pecahan kendi. Ada pula dua buah celengan sebesar bola tenis berbahan tanah liat lengkap dengan kepeng koin yang termasuk artefak asli peninggalan Majapahit. Selain itu, ada sekitar tujuh foto berukuran besar yang menampilkan gambar candi dan lokasi tempat situs Majapahit di Trowulan.

Arkeolog FIB UGM Daud Aris Tanudirjo mengatakan museum Mandala Majapahit memang dibuat sederhana. Menurut dia, artefak asli dan tiruan di sana hanya untuk memancing imajinasi pengunjung saja. Konten museum yang paling penting, menurut Daud, justru informasi hasil riset mengenai arkeologi Majapahit.

Daud berpendapat, museum penyimpan artefak dan wajib memuat informasi lengkap mengenai sejarah budaya di masa lalu. Dia mengkritik pengelolaan situs kedaton Majapahit di Trowulan yang melupakan hal ini. “Tanpa informasi, tidak banyak yang bisa didapat oleh pengunjung di museum arkeologi,” katanya.

Menurut Daud, benda dari situs-situs masa lalu penting ditampilkan di museum dengan dilengkapi informasi yang memadai. Informasi tersebut bisa menarik perhatian pengunjung karena membuat artefak lebih bernilai. “Museum harus menjadi sumber pengetahuan tentang masa lalu.”

Sumber dari

http://ugm.ac.id/id/berita/9551-ada.mandala.majapahit.di.fib.ugm

https://m.tempo.co/read/news/2014/12/06/079626667/adik-prabowo-bikin-museum-situs-majapahit-di-ugm

http://id.berita.yahoo.com/adik-prabowo-bikin-museum-situs-majapahit-di-ugm-215015045.html

http://selamatkanmajapahit.blogspot.co.id/2010_02_01_archive.html

http://serbasejarah.blogspot.co.id/2011/05/skripsi-ugm.html

http://zadandunia.blogspot.co.id/2012/12/majapahitkerajaan-nusantara-yang-sangat.html

 

Museum Situs Majapahit di UGM, Pendiri Museum Majapait, Koleksi Museum Majapait, Objek Studi Wista, Tempat Studi Wisata, Objek Studi Tour