Etika Guru dan Aturan Pendidikan menurut Ahli dan Tokoh Hasyim Asy’ari Ahmad Dahlan Imam Ghazali dan Ibnu Jama’ah

Etika Guru Menurut Hasyim Asy’ari

Tokoh yang akan kita bahasa buah pemikirannya tentang etika pedidikan dalam hal ini etika guru adalah

  1. Hasyim Asy’ari yang juga pendiri NU
  2. Ahmad Dahlan juga pendiri Muhammadiyah
  3. Imam Ghazali pemikir Islam
  4. Ibnu Jama’ah

Sosok K.H. Hasjim Asy’ari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.

Saat tahun 1892, K.H. Hasjim Asy’ari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.

Di Makkah, pada awalnya K.H. Hasjim Asy’ari belajar di bawah bimgingan Syaikh Mafudz dari Termas (Pacitan) yang merupakan ulama dari Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah. Syaikh Mafudz adalah ahli hadis dan hal ini sangat menarik minat belajar K.H. Hasjim Asy’ari sehingga sekembalinya ke Indonesia pesantren ia sangat terkenal dalam pengajaran ilmu hadis. Ia mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, di mana Syaikh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadis dari 23 generasi penerima karya ini. Selain belajar hadis ia juga belajar tassawuf (sufi) dengan mendalami Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

Mendirikan Nahdlatul Ulama’

Beliau sekalian aktif di berbagai kegiatan, baik yang bersifat lokal atau nasional. Pada tanggal 16 Sa’ban 1344 H/31 Januari 1926 M, di Jombang Jawa Timur didirikanlah Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ (kebangkitan ulama) bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama’-ulama’ besar lainnya, dengan azaz dan tujuannya: “Memegang dengan teguh pada salah satu dari madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’am dan Ahmad bin Hambali. Dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam”. KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi rois akbar NU, sebuah gelar sehingga kini tidak seorang pun menyandangnya. Beliau juga menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan faham ahli sunnah waljama’ah.

Ada dua puluh etika guru terhadap dirinya sendiri yaitu :

  1. Agar selalu istiqomah dalam muraqobah kepada Allah SWT.
  2. Senantiasa berlaku Khauf (takut kepada Allah) dalam segala ucapan dan tindakan.
  3. Senantiasa bersikap tenang.
  4. Senantiasa bersikap wara’ (meninggalkan perkara syubhat dan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat).
  5. Selalu bersikaf tawadlu’ (merendahkan diri terhadap mahluk dan melembutkan diri kepada mereka, atau patuh kepada kebenaran, dan tidak berpaling kepada hikmah, hukum dan kebijaksanaan).
  6. Selalu khusyu’ kepada Allah SWT.
  7. Menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan dalam segala keadaan.
  8. Tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga untuk mencapai keuntungan duniawi.
  9. Tidak diskriminatif terhadap murid.
  10. Bersikap zuhud dalam urusan dunia sebatas apa yang ia butuhkan.
  11. Menjauhkan diri dari tempat yang rendah dan hina menurut manusia.
  12. Menjauhkan diri dari tempat-tempat kotor dan maksiat.
  13. Agar selalu menjaga siar-siar islam dan zahir-zahir hukum, seperti shalat berjamaan di masjid.
  14. Menegakkan sunnah-sunnah dan menghapus segala hal yang mengandung unsur bid’ah.
  15. Membiasakan melakukan hal sunnah yang bersifat syari’at.
  16. Bergaul dengan ahlak yang baik.
  17. Membersihkan hati dan tindakannya dari akhlak yang jelek dan dilanjutkan dengan perbuatan yang baik.
  18. Senantiasa bersemangat untuk mengembangkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam setiap aktivitas ibadah.
  19. Tidak boleh membeda-bedakan status, nasab, dan usia dalam mengambil hikmah dari semua orang.
  20. Membiasakan diri untuk menyusun atau merangkum.

K.H. Hasyim Asy’ari memberikan pedoman bagi guru yang hendak mengajar, yaitu ketika akan berangkat ke ruangan (majlis ilm) :

  1. Mensucikan dirinya dari hadas dan kotoran
  2. Memakai harum-haruman
  3. Memakai pakaian yang layak sesuai dengan mode zamannya dengan  maksud untuk mengagungkan ilmu dan menghormati syariat.
  4. Berniat menyebarkan ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menegakkan agama Allah serta menyampaikan hukum-hukum Allah.
  5. Berniat untuk menunjukkan kebenaran dan kembali kepada kebajikan.
  6. Berkumpul bersama untuk berzikir kepada Allah SWT.
  7. Menyebarkan kedamaian kepada kawan-kawan muslimin.
  8. Mendo’akan ulama terdahulu.

Saat masuk ruangan (majlis ilm)

  1. Mengucapkan salam dengan tenang, tawadlu’ dan khusu’.
  2. Duduk ditempat yang bisa dilihat oleh semua murid.
  3. Bersikap lemah lembut kepada yang lain dengan menghormati dengan tutur kata yang lembut, wajah berseri-seri dan hormat.

Saat memulai mengajar

  1. Memulai belajar dengan membaca ayat Al-Qur’an untuk mencari barokah.
  2. Mendahulukan materi yang dianggap penting, dan tidak memperpanjang pelajaran sehingga membosankan atau meringkasnya.
  3. Jangan mengeraskan suara secara berlebihan atau memelankannya sehingga tidak terdengar, namun sebaiknya suara itu tidak melebihi majelis.
  4. Menjaga majelis dari kesalahan.
  5. Menekankan agar tidak membahas secara berlebihan atau menunjukkan tata krama yang jelek ketika membahas suatu pelajaran.
  6. Apabila ditanya tentang sesuatu yang belum diketahui, maka hendaknya dijawab “saya tidak tahu, atau saya tidak mengerti, karena sebagian dari ilmu adalah menyatakan saya tidak mengerti “.
  7. Hendaknya menunjukkan kasih sayang kepada orang baru yang hadir di majelis.
  8. Hendaknya memulai pelajaran dengan membaca basmalah.
  9. Jika tidak menguasai materi, maka hendaknya jangan mengajar atau mengajarkan sesuatu yang tidak tahu karena hal itu termasuk mempermainkan agama dan merendahkan diri dihadapan manusia.

http://www.muhammadiyahboarding.sch.id/santriwan/448-etika-guru-menurut-hasyim-asy-ari.html

Etika Guru Menurut Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah pernah memberikan kepada kita sebuah nasehat tentang beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang guru/pendidik. Syarat-syarat guru tersebut adalah :

  1. Muslim
  2. Mempunyai kemampuan dan kecakapan yang diperlukan
  3. Anggota/calon anggota/simpatisan organisasi (muhammadiyah atau aisyiyah).
  4. Loyal terhadap persyarikatan dan perguruan.
  5. Berjanji untuk memenuhi persyaratan khusus yang dimufakati bersama antara yang bersangkutan dengan bagian pendidikan dan pengajaran.

Diantara kelima syarat tersebut, syarat kemampuan menjadi perhatian yang istimewa. Syarat kemampuan dirinci sebagai berikut:

  • Menguasai bahan; a) menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah, b) menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi.
  • Menguasai program belajar; a) merumuskan tujuan instruksional, b) mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar, c) memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat, d) melaksanakan program mengajar dan belajar, e) mengenal kemapuan anak didik, f) merencakan dan melaksanakan pengajaran remedial.
  • Mengelola kelas; a) mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran, b) menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi.
  • Menggunakan media dan sumber; a)  mengenal dan memilih serta menggunakan sumber, b) menggunakan alat-alat bantu pelajaran yang sederhana, c) menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar, d) mengembangkan laboratorium, e) menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar.
  • Menguasai landasan-landasan kependidikan
  • Mengelola interaksi belajar mengajar.
  • Menilai prestasi siswa untuk kependidikan dan pengajaran.
  • Menguasai fungsi dan program dan bimbingan di sekolah; a) menguasai fungsi dan layanan dan bimbingan di sekolah, b) menyelenggarakan program layanan dan bimbingan di sekolah.
  • Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah; a) mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah, b) menyelenggarakan administrasi sekolah.
  • Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

http://www.muhammadiyahboarding.sch.id/asatidz/450-etika-guru-menurut-ahmad-dahlan.html

Etika Guru Menurut Imam Zarkasyi

Mengingat pentingnya tugas guru, maka guru harus memiliki sifat khusus yang memungkinkan pelaksanaan tugasnya dengan cara sebaik mungkin, sifat itu bertalian dengan fisik, intelektual dan moral, yaitu :

 

  1. Mempunyai akhlak yang mulia dan bebas dari perbuatan buruk
  2. Mempunyai niat dengan penuh keikhlasan dalam pekerjaannya dan bersungguh-sungguh dalam tugasnya.
  3. Sehat badan, kuat jasmani dan pikirannya.
  4. Suci dari cacat badan yang merendahkan (martabat guru)
  5. Mengetahui dasar pendidikan dan metode mengajar.
  6. Mengetahui ilmu jiwa (psikologi)
  7. Penuh bacaan dengan berbagai refrensi/literatur, sehingga menjadikannya orang yang menguasai materi.
  8. Cakap dalam memilih materi yang terpercaya kebenarannya, relevan dengan zaman dan kemampuan murid.
  9. Cakap dalam menyusun materi secara logis dan tertulis dalam buku persiapan mengajar.
  10. Mampu mentransformasi pengetahuan kepada pikiran murid dan sekaligus pemahamannya.
  11. Bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya, senang dan giat dalam melaksanakan tugasnya.
  12. Berair muka yang jernih (tidak murung dan kerut) dengan penuh kasih sayang dan baik dalam perlakuannya.
  13. Mempunyai persiapan dan kesiapan dalam tugasnya dan cakap dalam membangkitkan murid dengan penuh kasih sayang.
  14. Mampu membangkitkan kreatifitas murid dengan berbagai ilmu dan seni.
  15. Mampu memberikan kerinduan murid dalam pelajaran.
  16. Mampu dalam menguasai kelas dan dapat menjalin jalinan rohani (psikolgis) antara mudarris dan murid.
  17. Bertindak bijaksana dan adil dalam melakukan hukuman/sanksi terhadap murid.
  18. Matanya harus selalu awas, penuh perhatian dan cukup keberanian.
  19. Bersifat sabar, penuh kasih sayang terhadap murid.
  20. Suaranya harus jelas dan terang, berwibawa dan membekas dalam jiwa.
  21. Mengerti tujuan masing-masing pelajaran dan mengetahui pokok-pokok penting dalam pelajaran.
  22. Mejaga kebersihan badan dan pakaiannya.

Pesiapan guru dalam mengajar

Metodologi-psikologis dan motivasi kejiwaan kepada guru yang akan melaksanakan tugas mendidik dan mengajar yaitu :

  1. Niat mengajar.
  2. Mendidik dan mengajar adalah realisasi dari mujahadah yaitu mau bersusah payah memikirkan kebaikan, bukan enaknya.
  3. Belajar dihadapan murid tak akan kurang penting (berarti) dengan belajar dihadapan guru
  4. Seorang guru dalan professor pada mata pelajaran masing-masing. Untuk itu diperlukan persiapan mengajar tertulis, yang matang dan banyak (konfrehensif).
  5. Metode lebih penting dari materi, akan tetapi eksistensi guru itu lebih penting dari pada metode, dan jiwa guru (jauh) lebih penting dari wujud guru itu sendiri.

http://www.muhammadiyahboarding.sch.id/asatidzah/449–etika-guru-menurut-imam-zarkasyi.html

Akhlak Guru Menurut Imam Ghozali

Seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik ialah “orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing”. Pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar itu hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid.

Prestasi yang tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya. Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi.

Untuk menjadi seorang pendidik yang baik, Imam Al-Ghazali menetapkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang guru.

Pertama, Jika praktek mengajar merupakan keahlian dan profesi dari seorang guru, maka sifat terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang. Sifat ini dinilai penting karena akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan rasa tenteram pada diri murid terhadap gurunya. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan situasi yang mendorong murid untuk menguasai ilmu yang diajarkan oleh seorang guru.

Kedua, karena mengajarkan ilmu merupakan kewajiban agama bagi setiap orang alim (berilmu), maka seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajarnya itu.Seorang guru harus meniru Rasulullah SAW.yang mengajar ilmu hanya karena Allah, sehingga dengan mengajar itu ia dapat bertaqarrub kepada Allah. Demikian pula seorang guru tidak dibenarkan minta dikasihani oleh muridnya, melainkan sebaliknya ia harus berterima kasih kepada muridnya atau memberi imbalan kepada muridnya apabila ia berhasil membina mental dan jiwa. Murid telah memberi peluang kepada guru untuk dekat pada Allah SWT.Namun hal ini bisa terjadi jika antara guru dan murid berada dalam satu tempat, ilmu yang diajarkan terbatas pada ilmu-ilmu yang sederhana, tanpa memerlukan tempat khusus, sarana dan lain sebagainya. Namun jika guru yang mengajar harus datang dari tempat yang jauh, segala sarana yang mendukung pengajaran harus diberi dengan dana yang besar, serta faktor-faktor lainnya harus diupayakan dengan dana yang tidak sedikit, maka akan sulit dilakukan kegiatan pengajaran apabila gurunya tidak diberikan imbalan kesejahteraan yang memadai.

Ketiga, seorang guru yang baik hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya.Ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum menguasai pelajaran yang sebelumnya. Ia juga tidak boleh membiarkan waktu berlalu tanpa peringatan kepada muridnya bahwa tujuan pengajaran itu adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT,.Dan bukan untuk mengejar pangkat, status dan hal-hal yang bersifat keduniaan.Seorang guru tidak boleh tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran dengan sesama guru lainnya.

Keempat, dalam kegiatan mengajar seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya. Dalam hubungan ini seorang guru hendaknya jangan mengekspose atau menyebarluaskan kesalahan muridnya di depan umum, karena cara itu dapat menyebabkan anak murid yang memiliki jiwa yang keras, menentang, membangkang dan memusuhi gurunya. Dan jika keadaan ini terjadi dapat menimbulkan situasi yang tidak mendukung bagi terlaksananya pengajaran yang baik.

Kelima, seorang guru yang baik juga harus tampil sebagai teladan atau panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. Dalam hubungan ini seorang guru harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain. Seorang guru hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahliannnya atau spesialisasinya.Kebiasaan seorang guru yang mencela guru ilmu fiqih dan guru ilmu fiqih mencela guru hadis dan tafsir, adalah guru yang tidak baik. (Al-Ghazali, t.th:50)

Keenam, seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu. Dalam hubungan ini, Al-Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan batas kemampuan pemahaman muridnya, dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya, karena hal itu dapat menimbulkan rasa antipati atau merusak akal muridnya. (Al-Ghazali, t.th:51)

Ketujuh, seorang guru yang baik menurut Al-Ghazali adalah guru yang di samping memahami perbedaan tingkat kemampuan dan kecerdasan muridnya, juga memahami bakat, tabiat dan kejiawaannya muridnya sesuai dengan tingkat perbedaan usianya.Kepada murid yang kemampuannya kurang, hendaknya seorang guru jangan mengajarkan hal-hal yang rumit sekalipun guru itu menguasainya.Jika hal ini tidak dilakukan oleh guru, maka dapat menimbulkan rasa kurang senang kepada guru, gelisah dan ragu-ragu.

Kedelapan, seorang guru yang baik adalah guru yang berpegang teguh kepada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya untuk merealisasikannya sedemikian rupa.Dalam hubungan ini Al-Ghazali mengingatkan agar seorang guru jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip yang dikemukakannya. Sebaliknya jika hal itu dilakukan akan menyebabkan seorang guru kehilangan wibawanya. Ia akan menjadi sasaran penghinaan dan ejekan yang pada gilirannya akan menyebabkan ia kehilangan kemampuan dalam mengatur murid-muridnya. Ia tidak akan mampu lagi mengarahkan atau memberi petunjuk kepada murid-muridnya.

Dari delapan sifat guru yang baik sebagaimana dikemukakan di atas, tampak bahwa sebagiannya masih ada yang sejalan dengan tuntutan masyarakat modern. Sifat guru yang mengajarkan pelajaran secara sistematik, yaitu tidak mengajarkan bagian berikutnya sebelum bagian terdahulu dikuasai, memahami tingkat perbedaan usia, kejiwaan dan kemampuan intelektual siswa, bersikap simpatik, tidak menggunakan cara-cara kekerasan, serta menjadi pribadi panutan dan teladan adalah sifat-sifat yang tetap sejalan dengan tuntutan masyarakat modern.

Kesimpulannya, seorang pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar itu hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid. Prestasi yang tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya. Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi.

Al-Ghazali berpendapat bahwa guru yang dapat diserahi tugas mendidik adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya  Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh  dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.

http://www.muhammadiyahboarding.sch.id/santriwati/447-akhlak-guru-menurut-imam-ghozali.html

ETIKA GURU MENURUT IBNU JAMA’AH

Ibnu jamaah mengklasifikasikan etika guru untuk memudahkan pembahasan dan memperjelas aspek-aspek yang berbeda, dengan konsep yang jelas. Beliau membagi etika guru kedalam tiga bagian:

1.      Etika guru pada dirinya

2.      Etika guru pada muridnya

3.      Etika guru dalam mengajar.

Diantara kewajiban guru menurut ibn jama’ah adalah menghiasi diridengan akhlag yang diharuskan bagi tokoh agama dan bagi seorang mukmin. Secara umum syarat pendidikan guru dan etika yang baik dengan dirinya, murid-muridnya dan pelajaran

a.      Karakteristik akhlaq

Seorang guru diharuskan memiliki akhlaq yang mulia seperti sopan,khusu,tawadhu,hudu, tunduk pada Allah SWT, dan selalu mendekatkan diri pada-Nya secara diam-diam dan terang-terangan. Guru itu osisinya tinggi karena tidak boleh menghadap penguasa kecuali ada alasan yang jelas, sebagai bentuk pemuliaan pada ilmu. Salah satu bentuk yang dapat membantu guru untuk mencapai akhlaq yang mulia adalah zuhud terhadap dunia dan qona’ah.

Zuhud dunia adalah sifat yang harus ada pada setiap guru. Karena harus bersifat ekonomis dan menentukan skala prioritas dalam materi yang cukup memenuhi kebutuhan diri dan keluarga saja. Ibn jama’ah berwasiat kepada para guru untuk tidak terpengaruh oleh materi, karena guru adalah manusia paling utama. Mereka tidak diperkenankan untuk melakukan usaha-usaha lain diantaranya membekam, menyamak kulit, pekerjaan tukang emas lainnya. Jangan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang subhat, yang dapat menimbulkan prasangka buruk dimasyarakat. Semua itu dilakukan agar tidak menghancurkan kreadibilitas ilmu dan pemiliknya.

b.      Karakteristik agama

Selain karakteristik akhlaq mulia, ibn jama’ah juga menuntut agar guru memiliki karakteristik keagamaan, seperti:

1.      Melaksanakan syiar islam

2.      Melaksanakan amalan sunat baik perkataan maupun perbuatan, seperti membaca al-qur’an dzikir dalam hati ataupun lisan, menjaga wibawa nabi ketika diebut namanya, dia juga wajib bergaul dengan masyarakat dengan akhlaq mulia.

Ibn jama’ah sangat anyak memberikan bentuk tanggung jawab kepada guru dan mengarahkannya kepada aklaq yang baik. Dalam pandangannya, guru adalah orang besar dan contoh bagi masyarakat dan murid-muridnya,. Karena itu guru bisa bermuka ramah, menahan amarah, bisa member pengaruh, lemah lembut dan memerintah pada yang baik.

c.       Karakteristik keahlian.

Menurut ibn jama’ah aspek ideal seorang guru adalah tidak menghilangkan aspek-aspek yang  lain yang dapat membantunya untuk melaksanakan kewajiban mengajar. Pokoknya proses mengajar tidak akan terlaksana apabila keahliannya belum sempurna.

Dengan demikian , guru harus berusaha untuk meningkatkan keahliannya. Guur hendaknya tidak menyia-nyiakan  usianya untuk kegiatan yang tidak berhubungan dengan ilmu kecuali untuk hal yang penting.  Terhadap aspek aturan ideal realistis yang mengarah pada guru,ibn jama’ah memberikan tambahan bahwa seorang guru bersama murid-muridnya berusaha untuk sampai kepada hakikat.

Sehubung dengan hal diatas, kewajiban guru secara integral adalah mengarah dan menganalisis. Dlam pandangan ibn jama’ah seorang guru tidak boleh meniggalkan penelitian, tidak memahami tujuan untuk dicapai. Menurutnya juga, guru adalah orang yang aktivitasnya telah dimaklumi bahkan seluruh aspek kehidupannya tertuju kepada ilmu dan penyebarannya serta bermanfaat bagi diri dan murid-muridnya.

 

http://deryjamaluddin.page.tl/Etika-Guru-Menurut-Para-Ahli.htm

Biografi KH Hasyim Al Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)

https://id.wikipedia.org/wiki/Hasjim_Asy’ari

http://www.biografiku.com/2012/10/biografi-kh-hasyim-ashari-pendiri.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan

http://www.biografiku.com/2011/12/biografi-kh-ahmad-dahlan.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Zarkasyi

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/11/06/mvtd1x-kh-imam-zarkasy-sang-pelopor-pendidikan-islam-modern

https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Hamid_Muhammad_al-Ghazali

Sejarah Hidup Imam Al Ghazali (1)

https://id.wikipedia.org/wiki/Badruddin_Ibnu_Jama’ah

Konsep Pendidikan Ibnu Jama’ah

http://pkuulilalbab-uika.blogspot.co.id/2013/03/pemikiran-pendidikan-ibn-jamaah-oleh.html

Cari Guru Bimbel Jenius di Jogja
Cari Guru Bimbel Jenius di Jogja

Etika Guru, Aturan Etika Pendidikan, Etika Guru menurut Hasyim Asy’ari, Etika Guru menurut  Ahmad Dahlan, Etika Guru menurut  Imam Ghazali, Etika Guru menurut Ibnu Jama’ah, Guru Privat Jogja, Privat Jogja Guru Datang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *