Kasus pencurian arca di Solo merupakan tragedi keBUDAYAan dan keMANUSIAan,
mengingat materi yang dicuri dan orang yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Ironi besar yang dapat kita saksikan dan dapat dipahami sebagai
tragedi. Hal menunjukan bahwa kita yang sering bercerita kepada orang lain (luar
negeri) bahwa kita bangsa yang cinta budaya menjadi sebuah kenaifan,
sebaliknya orang luar yang mengingatkan amat kagun dengan budaya kita bangsa
Indonesia menjadi hal ironi karena juga melibatkan orang luar (walaupun
belum tentu salah) yaitu Hugo Krejiger.
Memang kalau dilihat dari arcanya (NANDISAWAHANAMURTI) otak kepala
pencuri arca tersebut sama nafsunya dengan alat kelamin arcanya. Karena jika
diperhatikan alat kelamin arca tersebut berbentuk kepala kerbau. jadi tidak
pernah dia berpikir dan memang kita sulit mengajak berpikir pencuri yang
nafsunya binatang. Namun kita harus terus menjaga dari segala orang dan
lembaga yang memfasilitasi atau memberikan ruang gerak bagi pencurian benda
budaya.
Sebagai tragedi budaya inilah yang pantas disandang sekarang, dengan
melihat cara dan praktik pemalsuan baik dokumen maupun barang (arcanya).
Manusia yang terlibat tidak memperhatikan nilai budaya dan sopan santun
sebagai bangsa yang kaya budaya.
Kita hampir tidak percaya lagi kepada negara (lembaga BP3) sebagai
lembaga resmi yang bertanggungjawab, namun mereka belum mampu untuk
menjaganya. Hal yang jadi pertanyaan besar adalah kenapa begitu mudahnya
kelompok pencuri itu mendapatkan banyak bukti kepemilikan dari Kraton
sebagai simbul budaya, dan lembaga BP3 sebagai lembaga resmi negara. Tentu
ini ada yang salah dalam melaksanakan tugas dan ada orang dalam yang
kuat yang mampu berbuat demikian.
Ini tragedi kemanusian dan menjadi tamparan bagi kita sebagai bangsa yang
cinta budaya, harus sengguh-sungguh memriksa semua pihak yang terlibat.
Kraton Solo juga lembaga BP3 Jateng, tidak cukup hanya menjadi saksi namun
harus menjadi penuntut karena namanya dipalsukan. Jika ini tidak
dilakukan kan menjadi sangat aneh sekali. Masak namanya dicemarkan
diam saja, jika tidak mau diusut juga terlibat.
Bisa juga disebut tragedi Budaya international karena juga melibatkan ornag
terkenal Hugo K dan terjadi bursa seni London. Tentu ini menjadi ironi
kenapa begitu bonafitnya orang dan lembaga yang terlibat bisa lolos dari
perhatian bangsa Indonesia (BP3). Demikian juga di yayasan Hashim, bercokol
mantan kepala BP3 DIY seharusnya sebelum kejadian belalu ada
peringatan dan perhatian sehingga kasus ini bisa dicegah sedini mungkin,
atau mereka malah mendukung, hanya mereka yang tahu tentunya.
Peringaatan yang jelas dan nyata dari peristiwa hilangnya koleksi musium ini
adalah perlu diambil kebijakan yang jelas dan tindakan yang nyata
untuk menghindari peristiwa di masa depan. Semua komponen harus menahan diri
dan selalu ingat akan nasif masa depan bangsa. Kejadian itu dapat terjadi
karena dari dalam petugas (bangsa Indonesia) cepat dapat uang banyak, hal
ini menjadi peluang dari luar (luar negeri) untuk mengambil koleksi kita
yang berharga. Kita patut belajar dari peristiwa koleksi buku-buku primbon
Jawa yang hilang dan yang ada malah di negeri Belanda. Kitan perlu
berkoar-koar pada Malaysia itu budaya kita. Tapi yang perlu adalah bagaimana
kita dapat merawat menjaga dan menikmat kesenian dan budaya kita. Kita
hayati budaya luhur kita dan kita terapkan dalam budaya sehari-hari sekarang.
Ditulis
oleh:
Yahya
Asngari
Mau Download Artikel ini
Klik Judulnya !