Rasanya Januari ini panjang sekali. Sepi. Rasanya Januari ini akan membekas
sekali. Awal tahun, bukan gegap gempita, tapi kesedihan dan luka mendalam
karena tragedi beruntun. Menyambut tahun 2007 ini, saya juga merasa begitu
sangsi dan gerah. Apakah semua dapat bergulir sesuai dengan target dan visi
yang selama ini bergentayangan dalam otak? Dapatkan tahun ini bisa
menancapkan sesuatu tonggak berharga untuk kepentingan jangka panjang?
Rasanya sudah sangat lama saya tidak menuliskan sesuatu dalam blog ini.
Rasanya seluruh badan saya satu per satu lolos, untuk kemudian mencapai
kejenuhan luar biasa. Beban hidup yang terus menerus menghimpit menjadikan
visi positif saya digerogoti sedikit sedikit. Kemana harus berlindung dan
bersembunyi dari godam-palu yang menghantam terus menerus kepala ini?
Alkisah pada sebuah negeri, seorang perempuan muda, bertanduk dan kedua
tangannya yang panas seperti api memuntahkan amarahnya. Seluruh negeri
gempar. Seluruh negeri merasa ketakutan. Seluruh negeri merasa terancam
jiwanya.
Hawa racun yang keluar dari asap perempuan bertanduk itu menyebar sangat
cepat. Perempuan itu terus berlari sambil berteriak lantang, marah dan
menjerit-jerit. Tanduknya mengeluarkan cahaya merah menyilaukan dan
membutakan mata bagi yang melihatnya. Asap dari tangannya mencekik
tenggorokan bagi siapapun yang menghisapnya. Bahkan pantulan cermin cahaya
merah dari tanduknya membuat mata buta seketika.
Cahaya tanduk perempuan itu tidak hilang. Cahaya itu keluar dari tanduk dan
berkumpul di awan. Cahaya itu menggumpal. Cahaya itu menjadi sebuah awan
panas.
Asap dari tangannya tidak mau sirna. Asap itu naik ke atas. Asap itu terus
mencekik tenggorokan. Asap itu menggantung di angkasa. Asap itu bertemu
dengan cahaya dari tanduk.
Penduduk negeri itu resah. Banyak korban nyawa. Korban terus berjatuhan.
Alkisah, disebuah negeri lainnya. Uap udara yang keluar dari mulut unggas
dapat menimbulkan kematian.
Ditulis oleh : Teguh Triwiyanto, M.Pd