Kalau mau bebas, tidak terikat dengan kehidupan sosial, tidak ada beban
untuk saling mengunjungi, tidak ada beban untuk saling menanyakan, hiduplah
dinegeri lain bukan di kampung sendiri. Kehidupam di kampung (tempat
kelahiran) kita, menuntut untuk saling berbagi dan saling memberi. Apalagi
kalau kita tinggal di desa, bahkan wilayah privat juga bisa menjadi miliki
umum.
Manusia yang tinggal di wilayah orang lain (bisa di luar negaranya atau luar
daerah asalnya), biasanya tuntutan untuk bersosialisasi lebih rendah.
Apalagi tinggal dalam jangka waktu yang pendek atau tinggal tidak permanen.
Tapi kita juga tidak bisa pukul rata kepada semua orang, ingat si Che yang
malang melintang bolak-balik antar negara Amerika Latin untuk memompa
semangat revolusi rakyat. Dia adalah warga dunia kali, bukan warga suatu
negara.
Orang seperti Che tidak banyak, sebagain besar dari kita memiliki ikatan
kuat dengan daerah asal. Fenomena Mudik, sekarang sudah mualai ya?,
membuktikan. Sebagaian kita akan tetap mencari: mana saudara kita, ikatannya
bagaiamana, sekarang jadi apa, ada dimana, dan terusssss? Persoalannya
sekarang, orang yang tidak tinggal di daerah asalnya sekian lama (sekolah/kuliah,
kerja, dll) begitu pulang merasa teralienasi. Terkena sindrom
disinherited masses?
Mudah-mudahan tidak mengalami sindrom ketercerabutan dari lingkungan. Begitu
pulang ke daerah asal, semua berubah: formasi sosial berubah, struktur
sosial berubah, sahabat lama sudah punya teman baru, tetangga yang dulu
dekat dengan kita sekarang sudah punya tetanggal yang lebih hangat lagi,
dan..dan kita hanya bisa bernyanyi huphup hup hup hu up.
Kacian ya kalau ada orang yang hanya mengurung diri dikamar atau di rumah
saja. Nah, kalau ini biasa di sebut sindrom
Hikikimori.
Ditulis oleh : Teguh Triwiyanto, M.Pd