Kompas.com, Sabtu, 8 Maret
2008 | 02:15 WIB
Berbahagialah Anda yang memiliki
pemimpin yang amat peduli dengan pendidikan. Mengapa? Sebab, dari
kepedulian itu akan lahir manusia-manusia unggul.
Adalah Kabupaten Musi Banyuasin
yang kini berubah total. Meski sebagai daerah penghasil minyak dan
gas cukup besar di Sumatera Selatan, dulu daerah itu merupakan
daerah paling tertinggal di Sumsel. Segala ketertinggalan itu kini
coba diatasi melalui pendidikan.
”Pada tahun 2002 saya menentukan
anggaran pendidikan di atas 20 persen sehingga biaya sekolah, mulai
SD hingga SMA negeri, swasta, dan madrasah, dapat digratiskan. Buku
pelajaran juga gratis. Untuk sekolah gratis, yang harus diperhatikan
adalah guru. Penolakan pertama justru datang dari guru karena mereka
kehilangan pendapatan sampingan,” tutur Bupati Musi Banyuasin Alex
Noerdin yang menjadi bupati sejak 2002.
Guru, kunci sukses
Alex menyadari guru adalah kunci
sukses pendidikan. Maka, keputusan menggratiskan pendidikan diikuti
dengan memberikan kesejahteraan kepada guru berupa uang makan Rp
6.000 per hari. Selain itu, guru juga mendapat seragam dinas,
bantuan transportasi sepeda motor atau speedboat. Tidak hanya itu,
para guru juga ”diberi masa depan”. Guru honorer harus bisa diangkat
menjadi PNS dan mendapat kesempatan meningkatkan kemampuan melalui
program Wajib Kuliah. Tahun 2006 300 guru ikut program itu, tahun
2007 sebanyak 1.800 guru, dan tahun 2008 menjadi 3.000 guru.
Cita-citanya, tahun 2009 sebanyak 7.200 guru di Musi Banyuasin sudah
berijazah S-1.
”Untuk membiayai program sekolah
gratis, kami harus meningkatkan pendapatan daerah dan mengefisienkan
pengeluaran daerah. Kami juga melobi pemerintah pusat agar bagi
hasil migas lebih transparan,” kata Alex yang juga Ketua Forum
Konsultasi Daerah Penghasil Migas.
Kepala Dinas Pendidikan Musi
Banyuasin Ade Karyana menambahkan, anggaran pendidikan Kabupaten
Musi Banyuasin tahun 2007 sebesar 22,79 persen atau Rp 341,93 miliar,
sedangkan 2008 naik menjadi 24,23 persen (Rp 390,14 miliar).
Peningkatan anggaran pendidikan seiring dengan peningkatan APBD dari
Rp 1,5 triliun (2007) menjadi Rp 1,6 triliun (2008).
Kondisi Yogyakarta
Berbeda dengan Musi Banyuasin,
Daerah Istimewa Yogyakarta yang sejak lama dikenal sebagai kota
pelajar justru anggaran pendidikannya belum memadai. Kabupaten
Sleman, misalnya, anggaran pendidikan tahun 2008 ”hanya” 17 persen (Rp
63,7 miliar) dari total anggaran belanja non-gaji APBD 2008. Jumlah
ini meningkat 2 persen dibandingkan dengan anggaran pendidikan 2007.
Jika ditambah komponen gaji guru Rp 320 miliar, alokasi anggaran
pendidikan Sleman mencapai Rp 383,7 miliar (45 persen) dari APBD
2008.
”Apakah anggaran ini ideal dan
mencukupi? Entahlah,” tutur Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan
Sleman Sunartono.
Dia menjelaskan, Sleman memiliki
500 SD. Jika tiap SD memerlukan dana operasional Rp 8 juta per bulan,
berarti diperlukan Rp 96 juta per tahun. Untuk 500 SD, jumlah
anggaran itu akan habis. Hitungan itu belum termasuk SMP dan SMA.
”Anggaran pendidikan tak akan mencukupi bila semua biaya operasional
sekolah dibebankan kepada pemerintah. Maka, keterlibatan masyarakat
diperlukan,” lanjut Sunartono.
Pemerintah Kabupaten Sleman juga
menganggarkan Rp 3,1 miliar untuk perbaikan gedung SD/MI. Jumlah ini
lebih rendah daripada dana APBD untuk klub sepak bola PSS Sleman
sebesar Rp 5 miliar tahun 2008.
Sementara itu, untuk Kota
Yogyakarta tersedia anggaran Rp 302,238 miliar. Dari jumlah itu,
anggaran terbanyak untuk gaji (PNS) dan honor (GTT/PTT) sebesar Rp
195,789 miliar. Sisanya untuk kegiatan operasional dan infrastruktur
pendidikan. Besaran anggaran ini, menurut Ketua DPRD Kota Yogyakarta
Arif Noor Hartanto, masih relevan. Sebab, selain pendidikan, nyaris
tidak ada bidang anggaran sektor lain yang sebanding. Untuk
pembangunan sarana dan prasarana perkotaan, misalnya, hanya Rp
23,215 miliar atau untuk klub sepak bola PSIM hanya Rp 5,6 miliar.
Bagaimana dengan anggaran perjalanan dinas? Konon komponen ini sulit
dihitung.
”Yang jelas, anggaran pendidikan
yang ditetapkan di Yogyakarta sudah sesuai kebutuhan riil,” ujar
Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto.
Optimalisasi anggaran
Komentar menarik ihwal anggaran
pendidikan seperti diputuskan Mahkamah Konstitusi muncul dari Bupati
Jembrana, Bali, I Gede Winasa. ”Tak ada relevansinya mengomentari
masalah itu karena Jembrana tidak pernah berpatokan pada persentase
anggaran pendidikan. Optimalisasi anggaran jauh lebih penting,”
tuturnya.
Jembrana termasuk daerah yang
istimewa dalam mengelola pendidikan dan kesehatan. Kabupaten di
ujung barat Pulau Bali itu adalah satu dari sedikit daerah di
Indonesia yang sejak tahun 2001 menggratiskan pendidikan dari SD
hingga SMA/ SMK dan membebaskan dari semua bentuk pungutan serta
memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dari sekolah swasta.
Meski pendapatan asli daerah hanya
Rp 15 miliar (2007), Jembrana berani memberikan penghargaan kepada
guru berupa insentif Rp 5.000 per jam (di luar tunjangan guru),
bonus, dan gaji ke-14 sebesar Rp 1 juta per tahun. Guru yang ingin
melanjutkan pendidikannya juga dibantu pembiayaannya oleh Pemerintah
Kabupaten Jembrana.
”Bagi kami, investasi sumber daya
pendidikan berada di atas segalanya,” kata Winasa.
Maka, benarlah ungkapan di awal
tulisan. Berbahagialah Anda yang memiliki pemimpin yang amat peduli
dengan pendidikan sebab dari sana akan lahir manusia-manusia unggul.
(cas/ful/bro/wad/raz/ dya/yop/ben/ans/ine/ton)