0812 1566 3955 nusagama@gmail.com

Kita sebagai bangsa senang kalau mendapat kasih daripada mendapatkan hasil dari usaha keras kita. Memang ini berat namun harus dikikis secara terus menerus supaya menjadi bangsa yang baik. Ada teman dari psikologi  bahwa kita mewarisi budaya Belanda dulu yang memberikan sedikit harta kepada perangkat desa untuk melakukan pemerasan kepada rakyatnya. Lebih jauh dan parah lagi lanjutnya kita sudah diwarisi gen dari pendahulu kita untuk memeras bangsa sendiri.

Contoh seorang lurah dan camat ketika daerahnya akan dijadikan lahan pabrik, atau lahan perkebunan maka beliau akan menindas rakyatnya yang menolak dengan dipersulit urus surat kewarganegaraan dan lainnya. Gen ini bagaimana dihilangkan? Tentu harus menghambat gen ini terus tumbuh di “HATI” para pejabat pemerintah.

Usaha ini juga harus dari dua arah, ujung yang satunya adalah “PENGUSAHA” yang menyuap. Teman yang satu lagi berkata, kalau berusaha di wilayah NKRI  sudah biasalah nyuap sedikit-sedikit karena memang itu fakta. Karena pejabat ongkos politiknya mahal. Lha ini undang-undang pemilu mau membatasi dana kampanye. Semoga berhasil KPU.

Cara yang dapat dilakukan untuk mengikis budaya mengemis adalah;

  1. Pemerintah melarang mengemis,

Bisa mengeluarkan perda, tentang Penanganan Pengemis, Gelandangan, Orang terlantar, dan Tuna Susila (PGOT).  Pemerintah bisa melakukan tindakan kepada orang atau lembaga yang berbuat dan mendukung tindakan mengemis.

  1. Para Mahasiswa dilarang meminta bantuan di jalanan, buat di lingkungan kampus saja.

Mahasiswa dan Pelajaran juga masih ada yang melakukan tindakan meminta-minta sumbangan atas nama bencana di daerahnya atau bencana nasional. Lebih baik cara lewat lingkungan kampus dan sekolah dengan menyediakan kotak tempat sumbangan atau nomor rekening untuk menyumbang. Ini lebih tertib dan aman.

  1. Masyarakat kalau mau menyumbang disalurkan lewat badan amal.

Untuk masyarakat yang berkemampuan da mau menyumbang bisa lewat badan sosial yang resmi. Bisa lewat Depsos atau lembaga amal yang membuka tempat dan rekening untuk menyumbang. Kadang juga orang meragukan namun ini harus ada pembelajaran. Sebab semua akan bias jika kita lihat korporas besar membuka rekening bantuan, nanti penyalurannya juga diekpos besar-besaran untuk kepentingan korporasi itu saja. Kalau lewat badan amal misal Depsos, atau BMT atau lembaga yang menenteng kotak amal di jalanan kwatir gak sampai. Atau potongannya terlalu besar buat badan amal itu yang seharusnya hanya sebesar 13% untuk amil bisa habis untuk operasional lembaga amal kan repot.

Bagi masyarakat yang menjadi korban, kalau mau membutuhkan bantuan lewat dan mintalah kepada badan amal yang sudah ada, Depsos, dan badan sosial lainya.

Masyarakat yang jadi korban juga diharapkan melalui jalan yang resmi dalam mengajukan bantuan. Ini diharapkan akan menjadi ketertiban masyarakat dalam berbagi dan menerima bantuan.

Karakter harus diajarkan kepada sejak kecil, bisa lewat kajian parenting dan pedidikan agama baca Quran. Privat Calistung Jogja, Privat Baca Tulis, Privat Berhitung TK, Privat TK PAUD Jogja, Guru Privat TK Jogja, Tempat Privat TK PAUD, Guru Les Privat Jogja, Privat TK guru Datang.