0812 1566 3955 nusagama@gmail.com

Privat SD Jogja, SDN Giwangan  Kota Yogyakarta, Guru privat SD Jogja, Les Privat SD Jogja, Les Privat Jogja

SDN Giwangan  Kota Yogyakarta, beralamat di Komplek SD Giwangan sebelumnya terdiri dari 2 SD yaitu SD Nitikan I dan SD Giwangan. Pada tahun 1985 SD Nitikan I merupakan SD Terpadu.

Kemudian saat terjadi gempa 26 Desember 2006 gedung SD Nitikan I dan SD Giwangan roboh total. Semenjak itu kemudian diregrouping menjadi nama SD Giwangan Yogyakarta. Pembangunan gedung sekolah dilaksanakan oleh PERBANAS.

 

Visi dan Misi SD Giwangan

VISI

Terwujudnya siswa SD Giwangan Beriman, Bertaqwa, Berkarakter,Berbudaya, Berwawasan Lingkungan, dan Unggul Dalam Prestasi.

MISI

  1. Melaksanaan kegiatan keagamaan di sekolah dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Melaksanakan pembiasaan pembentukan karakter yang meliputi budaya jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, percaya diri, tertib, dan santun, baik dalam berbicara maupun berperilaku.
  3. Melaksanakan pembiasaan budaya dan perilaku Budaya Jawa.
  4. Melestarikan budaya Jawa.
  5. Melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-  hari.
  6. Membiasakan mencintai lingkungan melalui program Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM).
  7. Melaksanakan pembiasaan Semutlis dan Semutlik.
  8. Melaksanakan program bank sampah dan mengolah sampah.
  9. Mencapai nilai ujian nasional daerah dan sekolah rata-rata minimal 25,00.
  10. Mencapai kejuaraan dalam bidang sains.
  11. Mencapai kejuaraan dalam bidang seni, sastra, dan olah raga

TUJUAN

1.  Mewujudkan peserta didik mempunyai akhlakul kharimah yang baik melalui kegiatan keagamaan dalam kehidupan
sehari-hari.
2.  Mewujudkan sikap peserta didik yang mencerminkan karakter yang baik dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
3.  Membentuk perilaku peserta didik yang mencintai budaya khususnya budaya Jawa.
4.  Membentuk perilaku peserta didik yang mencintai budaya Jawa.
5.  Mewujudkan perilaku peserta didik hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari
6.  Membentuk peserta didik yang mencintai lingkungan melalui program Kecil Menanam Dewasa Memanen
(KMDM).
7.  Menanamkan peserta didik cinta dan peduli lingkungan melalui Semutlis dan Semutlik.
8.  Membentuk peserta didik terampil dalam mengolah sampah.
9.  Mewujudkan nilai ujian nasional daerah dan sekolah rata-rata minimal 25,00
10.  Memperoleh kejujuran dalam bidang sains.
11. Memperoleh kejuaraan dalam bidang seni, sastra, dan olah raga

 

Sebagai sekolah Adiwiyata

Latar Belakang

  1. A. Gambaran Umum Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di Indonesia.

Pada awalnya penyelenggaraan PLH di Indonesia dilakukan oleh Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta pada tahun 1975. Pada tahun 1977/1978 rintisan Garis‐garis Besar Program Pengajaran Lingkungan Hidup diujicobakan di 15 Sekolah Dasar Jakarta. Pada tahun 1979 di bawah koordinasi Kantor Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Meneg PPLH) dibentuk Pusat Studi Lingkungan (PSL) di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, dimana pendidikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL mulai dikembangkan). Sampai tahun 2010, jumlah PSL yang menjadi Anggota Badan Koordinasi Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) telah berkembang menjadi 101 PSL. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departeman Pendidikan Nasional (Ditjen Dikdasmen Depdiknas), menetapkan bahwa penyampaian mata ajar tentang kependudukan dan lingkungan hidup secara integratif dituangkan dalam kurikulum tahun 1984 dengan memasukan materi kependudukan dan lingkungan hidup ke dalam semua mata pelajaran pada tingkat menengah umum dan kejuruan. Tahun 1989/1990 hingga 2007, Ditjen Dikdasmen Depdiknas, melalui Proyek Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) melaksanakan program Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup; sedangkan Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) mulai dikembangkan pada tahun 2003 di 120 sekolah. Sampai dengan berakhirnya tahun 2007, proyek PKLH telah berhasil mengembangkan SBL di 470 sekolah, 4 Lembaga Penjamin Mutu (LPMP) dan 2 Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG).

Prakarsa Pengembangan Lingkungan Hidup juga dilakukan oleh LSM. Pada tahun 1996/1997 terbentuk Jaringan Pendidikan Lingkungan yang beranggotakan LSM yang berminat dan menaruh perhatian terhadap Pendidikan Lingkungan Hidup. Hingga tahun 2010, tercatat 150 anggota Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL, perorangan dan lembaga) yang bergerak dalam pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup. Sedangkan tahun 1998 – 2000 Proyek Swiss Contact berpusat di VEDC (Vocational Education Development Center) Malang mengembangkan Pendidikan Lingkungan Hidup pada Sekolah Menengah Kejuruan melalui 6 PPPG lingkup Kejuruan dengan melakukan pengembangan materi ajar PLH dan berbagai pelatihan lingkungan hidup bagi guru‐guru Sekolah Menengah Kejuruan termasuk guru SD, SMP, dan SMA.

Pada tahun 1996 disepakati kerjasama pertama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, yang diperbaharui pada tahun 2005 dan tahun 2010. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tahun 2005, pada tahun 2006 Kementerian Lingkungan Hidup mengembangkan program pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar dan menengah melalui program Adiwiyata. Program ini dilaksanakan di 10 sekolah di Pulau Jawa sebagai sekolah model dengan melibatkan perguruan tinggi dan LSM yang bergerak di bidang Pendidikan Lingkungan Hidup.

Sejak tahun 2006 sampai 2011 yang ikut partisipasi dalam program Adiwiyata baru mencapai 1.351 sekolah dari 251.415 sekolah (SD, SMP, SMA, SMK) Se‐Indonesia, diantaranya yang mendapat Adiwiyata mandiri : 56 sekolah, Adiwiyata: 113 sekolah, calon Adiwiyata 103 sekolah, atau total yang mendapat penghargaan Adiwiyata mencapai 272 Sekolah (SD, SMP, SMA, SMK) Se‐Indonesia. Dari keadaan tersebut di atas, sebarannya sebagaian besar di pulau Jawa, Bali dan ibu kota propinsi lainnya, jumlah/ kuantitas masih sedikit, hal ini dikarenakan pedoman Adiwiyata yang ada saat ini masih sulit diimplementasikan.

Dilain pihak Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 tahun 2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata, belum dapat menjawab kendala yang dihadapi daerah, khususnya bagi sekolah yang melaksanakan program Adiwiyata. Hal tersebut terutama kendala dalam penyiapan dokumentasi terkait kebijakan dan pengembangan kurikulum serta, sistem evaluasi dokumen dan penilaian fisik . Dari kendala tersebut diatas, maka dianggap perlu untuk dilakukan penyempurnaan Buku Panduan Pelaksanaan Program Adiwiyata 2012 dan sistem pemberian penghargaan yang tetap merujuk pada kebijakankebijakan yang telah ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kemendikbud. Oleh karenanya diharapkan sekolah yang berminat mengikuti program Adiwiyata tidak merasa terbebani, karena sudah menjadi kewajiban pihak sekolah memenuhi Standar Pendidikan Nasional sebagaimana dilengkapi dan diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.19 tahun 2005, yang dijabarkan dalam 8 standar pengelolaan pendidikan.

Dengan melaksanakan program Adiwiyata akan menciptakan warga sekolah, khususnya peserta didik yang peduli dan berbudaya lingkungan, sekaligus mendukung dan mewujudkan sumberdaya manusia yang memiliki karakter bangsa terhadap perkembangan ekonomi, sosial, dan lingkungannya dalam mencapai pembangunan berkelanjutan di daerah.

Sumber:

https://www.facebook.com/pages/SD-Negeri-Giwangan/114854405328335

https://id-id.facebook.com/sdngiwanganyk

http://www.sdgiwangan.sch.id/

Privat SD Jogja, SDN Giwangan  Kota Yogyakarta, Guru privat SD Jogja, Les Privat SD Jogja, Les Privat Jogja