0812 1566 3955 nusagama@gmail.com

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang merdeka, berdaulat namun dalam menentukan standart produk yang masuk ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) belum Merdeka. Kenyataan di lapangan klo kita beli barang dan produk yang katany sudah SNI namun masih tidak cocok dengan label atau tulisan yang ada di pembungkusnya.

Kriteria standart masih bersifat sangat relatif. Saya tidak percaya bahwa orang yang duduk di badan SNI itu bukan orang baik, profesional dan jujur. Namun mereka memang ditekan dan mungkin dipaksa oleh orang yang ada di atasnya. Ketegasan da kejujuran adalah kunci sukses atau kalau dalam bahasa negara adalah kunci keberhasilan dan kemajuan bangsa Indonesia menuju masyarakat yang makmur.

Coba anda buktikan sendiri, contoh pertama adalah besaran atau ukuran watt yang tertera di bolan lampu (plenthong). Ada merk lampu bolan “XXXXX” menulis besaran watt-nya “5 watt” tapi kenyataannya ternyata 10 watt. Kemudian dikoreksi oleh SNI dalam bentuk  5 watt “plus” ini kan bentuk ketidak tegasan kepada produsen dan konsumen. Tulisan besaran sesungguhnya hanya kecil 10 watt.

Contoh kedua, adalah merk merk lampu bolan “YYYYY” menulis besaran 10 watt tapi kenyataannya 15 watt. Padahal ini merk terkenal di NKRI lho. Banyak dipakai oleh masyarakat.

Kemudian  contoh lagi pada ukuran besi lonjoran, ukurannya katanya 8, lha kemudian dalam kenyataan kalau diukur jadi lain. Ukuran dengan 8 menjadi kuru (kurus) dan lemu (gemuk) yang terjadi di masyarakat. Ini buka informal usahanya, toko bangunan besar kok? Tapi masih menggunakan ukuran begitu.  Ini benar atau salah justru yang ada adalah pembenaran, kriterianya kalau kuru (kurus) ukuran besarnya diameter kurang 8 tapi panjangnya tepat 12 meter. Klau gemuk (lemu) ukuran besarnya diameter tepat 8, tapi panjangnya kurang dari 12 meter.  Coba sekali-kali survei anda di daerah anda mungkin di setiap daerah istilahnya tidak sama.

Berarti sebelum SNI turun tangan masyarakat benar-benar dibohongi. Apakah bisa menuntut??? Class Action  atau tuntutan masyarakat. Masyarakat jujurlah pada semua.

Mari kita tumbuhkan sikap yang profesional. Dengan begitu akan tercapai kualitas negara yang makmur bagi semua rakyatnya.