0812 1566 3955 nusagama@gmail.com

Monalisa adalah sebuah lukisan yang sudah melegenda di dunia. Hampir semua orang kenal atau mengetahui lukisan tersebut. Namun yang tidak banyak orang ketahui adalah lukisan tersebut dibuat oleh seorang yang menderita difabel disleksia, yaitu Leonardo Da Vinci. Lalu apa itu disleksia ?

            Menurut John W.Santrock, Disleksia adalah satu kategori yang ditujukan untuk individu atau anak-anak yang memiliki kelemahan cukup serius di dalam kemampuannya untuk mengeja serta membaca. Hal ini disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada area otak kiri yang berfungsi untuk memproses kemampuan mengingat dan berbahasa. Dampaknya, anak mengalami gangguan otak yang menyebabkannya kesulitan dalam merangkai kata, angka, arah, huruf, dan susunan-susunan lainnya.

            Gangguan ini bukanlah sesuatu yang baru lagi, sudah ditemukan sejak tahun 1896 oleh McDonald Critchley, seorang neurology Inggris. McDonald juga menyatakan jika disleksia merupakan gangguan belajar yang paling sering ditemui. Prevalensi gangguan ini di Indonesia cukup banyak. Menurut data yang dihimpun Jawa Pos, terdapat sekitar 10 % dari jumlah penduduk Indonesia seluruhnya adalah difabel disleksia. Hal ini menandakan bahwa terdapat 2 hingga 3 orang siswa dengan gangguan disleksia di dalam kelas yang memiliki jumlah siswa sebanyak 25 orang.

Gejala Gangguan Disleksia

            Apabila dilihat secara fisik, anak dengan disleksia tidak ada bedanya dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya. Anak disleksia pun juga memiliki perkembangan mental yang sama dengan anak-anak seusianya. Berikut adalah cara mendeteksi disleksia pada anak-anak :

Pada setiap tahap perkembangan, gejala disleksia dapat berbeda-beda, yaitu :

  1. Gejala pada balita
  2. Anak seringkali tertukar-tukar dalam pengucapan kata. Misalnya ‘tipu’ dengan ‘tiup’.
  3. Anak kesusahan dalam mengingat lirik lagu ataupun urutan hari. Anak juga mengalami kesusahan dalam menceritakan peristiwa secara sistematis atau berurutan.
  4. Cenderung memiliki perkembangan yang lambat dalam berbicara.
  5. Anak kesusahan mempelajari kata-kata baru serta menggunakannya di dalam kegiatan sehari-hari.
  6. Gejala pada Anak Usia Sekolah
  7. Anak cenderung mengalami kebingungan dalam mengenali huruf-huruf yang berbentuk mirip. Misalnya ‘b’ dengan ‘d’, atau ‘q’ dengan ‘p’.
  8. Anak mengalami kebingungan dalam mengenali huruf-huruf yang memiliki bunyi mirip, misalnya ‘b’ dengan ‘b’ atau ‘t’ dengan ‘d’.
  9. Dapat mencerna informasi secara verbal dengan baik, tapi cenderung menghindarkan diri dari membaca.
  10. Mempunyai tulisan yang buruk
  11. Memiliki kemampuan pemahaman dalam membaca yang rendah
  12. Kesusahan dalam mengeja
  13. Seringkali mengalami kesalahan yang sama di dalam membaca, meski kata yang dibaca adalah kata yang telah diketahui sebelumnya, seperti “di sana” atau “saya”.

Peran Orangtua Dalam Menghadapi Anak Disleksia

Bagi penyandang disleksia, orang tua adalah bagian penting dalam tumbuh kembang anak. Bagaimana anak menjalani hidup serta memilih, sangat dipengaruhi oleh keputusan-keputusan serta pilihan orang tua. Sementara itu, khusus orang tua, menemukan metode yang tepat untuk memenuhi kebutuhan belajar anak adalah sebuah hal yang sangat baik. Namun, panik serta memaksa anak agar belajar sama dengan anak-anak lain bukan solusi yang baik.

Orangtua harus membicarakan tentang kebutuhan khusus yang anak inginkan. Anak harus diajarkan agar dapat memahami kondisinya supaya bisa menolong dirinya sendiri. Anak butuh diberikan arahan serta diedukasi bahwa kebutuhan belajarnya berbeda dengan teman-temannya yang lain serta itu bukanlah hal yang perlu untuk disesali.

Les Privat Untuk Anak Disleksia

Kesibukan orangtua menjadikan tidak maksimalnya dalam mendampingi serta mengajari anak disleksia. Padahal terapi-terapi belajar khusus anak disleksia seperti terapi multisensory, yoga, dan terapi teknik jari membutuhkan penanganan khusus yang tidak dapat didapatkan di sekolah. Oleh karena itu mencarikan pendamping khusus untuk anak disleksia atau les privat menjadi solusi yang ideal agar anak disleksia dapat semakin dapat mengatasi permasalahannya.