0812 1566 3955 nusagama@gmail.com

Kalau mau bebas, tidak terikat dengan kehidupan sosial, tidak ada beban untuk saling mengunjungi, tidak ada beban untuk saling menanyakan, hiduplah di negeri lain bukan di kampung sendiri. Kehidupan di kampung (tempat kelahiran) kita, menuntut untuk saling berbagi dan saling memberi. Apalagi kalau kita tinggal di desa, bahkan wilayah privat juga bisa menjadi miliki umum.

Manusia yang tinggal di wilayah orang lain (bisa di luar negaranya atau luar daerah asalnya), biasanya tuntutan untuk bersosialisasi lebih rendah. Apalagi tinggal dalam jangka waktu yang pendek atau tinggal tidak permanen. Tapi kita juga tidak bisa pukul rata kepada semua orang, ingat si Che yang malang melintang bolak-balik antar negara Amerika Latin untuk memompa semangat revolusi rakyat. Dia adalah warga dunia kali, bukan warga suatu negara.

Orang seperti Che tidak banyak, sebagian besar dari kita memiliki ikatan kuat dengan daerah asal. Fenomena Mudik, sekarang sudah mulai ya?, membuktikan. Sebagian kita akan tetap mencari: mana saudara kita, ikatannya bagaimana, sekarang jadi apa, ada dimana, dan terusssss? Persoalannya sekarang, orang yang tidak tinggal di daerah asalnya sekian lama (sekolah/kuliah, kerja, dll) begitu pulang merasa teralienasi. Terkena sindrom disinherited masses?

Mudah-mudahan tidak mengalami sindrom ketercerabutan dari lingkungan. Begitu pulang ke daerah asal, semua berubah: formasi sosial berubah, struktur sosial berubah, sahabat lama sudah punya teman baru, tetangga yang dulu dekat dengan kita sekarang sudah punya tetangga yang lebih hangat lagi, dan..dan kita hanya bisa bernyanyi huphup hup hup hu up.

Kacian ya kalau ada orang yang hanya mengurung diri dikamar atau di rumah saja. Nah, kalau ini biasa di sebut sindrom Hikikimori.

Ditulis oleh : Teguh Triwiyanto, M.Pd