fbpx
0812 1566 3955 nusagama@gmail.com

Kasus pencurian arca di Solo merupakan tragedi keBUDAYAan dan keMANUSIAan, mengingat materi yang dicuri dan orang yang terlibat dalam kejadian tersebut. Ironi  besar yang dapat kita saksikan dan dapat dipahami sebagai tragedi. Hal menunjukan bahwa kita yang sering bercerita kepada orang lain (luar negeri) bahwa kita bangsa yang cinta budaya menjadi sebuah kenaifan, sebaliknya orang luar yang mengingatkan amat kagun dengan budaya kita bangsa Indonesia menjadi hal ironi karena juga melibatkan orang luar (walaupun belum tentu salah) yaitu Hugo Krejiger.

Memang  kalau dilihat dari arcanya (NANDISAWAHANAMURTI) otak kepala pencuri arca tersebut sama nafsunya dengan alat kelamin arcanya. Karena jika diperhatikan alat kelamin arca tersebut berbentuk kepala kerbau. jadi tidak pernah dia berpikir dan memang kita sulit mengajak berpikir pencuri yang nafsunya binatang. Namun kita harus terus menjaga dari segala orang dan lembaga yang memfasilitasi atau memberikan ruang gerak bagi pencurian benda budaya.

Sebagai tragedi budaya inilah yang pantas disandang sekarang, dengan melihat cara dan praktik pemalsuan baik dokumen maupun barang (arcanya). Manusia yang terlibat tidak memperhatikan nilai budaya dan sopan santun sebagai bangsa yang kaya budaya.

Kita hampir tidak percaya lagi kepada negara  (lembaga BP3) sebagai lembaga resmi yang bertanggungjawab, namun mereka belum mampu untuk menjaganya. Hal yang jadi pertanyaan besar adalah kenapa begitu mudahnya  kelompok pencuri itu mendapatkan banyak bukti kepemilikan dari Kraton sebagai simbol budaya, dan lembaga BP3 sebagai lembaga resmi negara. Tentu ini ada yang salah dalam melaksanakan tugas dan ada orang dalam  yang kuat yang mampu berbuat demikian.

Ini tragedi kemanusiaan dan menjadi tamparan bagi kita sebagai bangsa yang cinta budaya, harus sungguh-sungguh memeriksa semua pihak yang terlibat. Kraton Solo juga lembaga BP3 Jateng, tidak cukup hanya menjadi saksi namun harus menjadi penuntut karena namanya dipalsukan. Jika  ini tidak dilakukan kan menjadi  sangat aneh sekali. Masak namanya dicemarkan diam saja, jika tidak mau diusut juga terlibat.

Bisa juga disebut tragedi Budaya international karena juga melibatkan ornag terkenal Hugo K dan terjadi bursa seni London. Tentu ini menjadi ironi kenapa begitu bonafitnya orang dan lembaga yang terlibat bisa lolos dari perhatian bangsa Indonesia (BP3). Demikian juga di yayasan Hashim, bercokol mantan kepala BP3 DIY  seharusnya sebelum kejadian berlalu ada peringatan dan perhatian sehingga kasus ini bisa dicegah sedini mungkin, atau mereka malah mendukung, hanya mereka yang tahu tentunya.

Peringatan yang jelas dan nyata dari peristiwa hilangnya koleksi museum ini adalah perlu diambil kebijakan yang jelas dan tindakan yang  nyata untuk menghindari peristiwa di masa depan. Semua komponen harus menahan diri dan selalu ingat akan nasib masa depan bangsa. Kejadian itu dapat terjadi karena dari dalam petugas (bangsa Indonesia) cepat dapat uang banyak, hal ini menjadi peluang dari luar (luar negeri) untuk mengambil koleksi kita yang berharga. Kita patut belajar dari peristiwa koleksi buku-buku primbon Jawa yang hilang dan yang ada malah di negeri Belanda. Kita perlu berkoar-koar pada Malaysia itu budaya kita. Tapi yang perlu adalah bagaimana kita dapat merawat menjaga dan menikmati kesenian dan budaya kita. Kita hayati budaya luhur kita dan kita terapkan dalam budaya sehari-hari sekarang.