0812 1566 3955 nusagama@gmail.com

Inti dari pendidikan adalah mendidik dan melatih serta olah rasa manusia dalam menjalani kehidupannya. Pendidikan yang diterapkan hanya mengutamakan olah pikiran akan berjalan pincang bahkan lumpuh dan tuli hati. Hasil dan output pendidikan menjadi beban masyarakat dan negara. Masyarakat menanggung kerugian yang besar, misal biaya pendidikan dikorupsi maka kerugian berupa materi pada saat ini tapi ke depan ada kerugian berupa kesempatan yang hilang bagi anak bangsa untuk bersekolah.

School of emphaty  perlu digalakan di dunia pendidikan kita. Sebenarnya dahulu para guru itu benar-benar mengabdi mengajar dengan empati agar siswanya berhasil dalam masyarakat ada olah rasa dan olah pikir. Pendidikan menekankan siswa bisa merasakan dan mengolah dengan kekuatan pikiran untuk menyelesaikan persoalan kehidupan masyarakat. Ada nilai luhur dalam pendidikan empati ini.

Namun karena semua sendi kehidupan sudah dirasuki pola pikiran bisnis yang berpola menghasilkan sebanyak-banyaknya keuntungan maka guru juga termasuk itu. Guru mengajarkan sesuai itu yang penting nilai hasil Ujian Nasional lulus. Nilai kesopanan dan kejujuran sering tidak dinilai, walaupun dalam penentuan kelulusan ada faktor itu. Namun sekolah takut tidak meluluskan, itu jelas karena sekolah yang tidak bisa meluluskan akan dijauhi calon siswa. Secara ekonomi sekolah rugi karena siswa sedikit.

Pada tataran yang lebih tinggi adalah para birokrat dan pejabat sekarang banyak yang korupsi. Ini hasil pendidikan yang mengedepankan nilai kognitif saja. Nilai rasa ditinggalkan dan dicampakan. Kalau ada benih-benih rasa empati dinilai cara muka. Kan aneh bangsa Indonesia yang dulu dikenal bangsa yang ramah, jujur dan sopan jadi negara yang menjual harga diri bangsa demi asing (baca:investor asing) saja. Rakyat dikorbankan dan dikeberi hanya sebagai pelengkap saja.

Negara dengan kekayaan SDA  berupa minyak dan tambang malah terjadi kelangkaan, ini tentu ada yang salah. Kalau menyalahkan pendahulu dan sistem tidak menyelesaikan masalah. Hanya membenarkan dan menghalalkan mereka ikut sistem dam tentu dekat dengan korupsi.

Satu kata saja misalnya Pejabat dan Birokrat PUNYA HATI dan NURANI maka akan malu dan merasakan empati karena rakyatnya miskin.  Tapi itu tentu terlalu teoritik, tapi ada benarnya karena sistem itu dijalankan oleh orang jika ada yang salah mbok dibenarkan. Bisa melalui UU di DPR dan Peraturan melalui pejabat pemerintah.

Untuk guru dan pejabat di disdik mengikuti  Pendidikan dan Pelatihan atau Diklat guru, bidang Media Pengajaran Berbasis Multimedia, Diklat Guru bidang Software Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Sekolah, Diklat guru dan Pegawai Disdik bidang Pemetaan dan Pendataan Pendidikan dan Sekolah berbasis Digitalmap Geografi,  Diklat guru dan Pegawai Disdik bidang Penelitian, Olah dan Analisis data Ilmiah untuk Penulisan Karya Ilmiah Pendidikan, Pendidikan dan Pelatihan atau Diklat guru dan Pegawai Disdik bidang Internet pendidikan dan Membangun Webblog dan Websites Sekolah dan Pendidikan, Diklat dan pelatihan komputer TU dan administrasi sekolah.

Sekarang fenomena menarik adalah Joko Wi yang terpilih di Jakarta. Dulu kampanye hanya dikumpulkan di lapangan diceramahi dan diberikan bingkisan. Hasilnya tidak ada pejabat yang terpilih memikirkan rakyat. Klau Joko Wi langsung kampanye di kampung-kampung menemui warga, ada simpati dan empati. Rakyat merasakan ada penghargaan dihargai oleh calon pejabat. Rakyat simpati dengan cara ini dan berhasil jadi Gubernur Jakarta.

Semoga ada empati dan simpati yang sesungguhnya, apakah anda percaya ini, why? Pendidikan Empati bagi Guru, Birokrat dan Pejabat Layanan Publik Indonesia. Privat internet sekolah, privat jaringan Internet sekolah, Privat Internet Kantor, Privat Internet Marketing, Privat Buat Blog Bisnis, Belajar Blog Bisnis dan komputer sekolah