0812 1566 3955 nusagama@gmail.com

Perseteruan di tubuh PSSI sekarang ini tidak lepas dari kekuatan modal, yang bertarung untuk memperebutkan kue lezat sepak bola di Indonesia. Perkembangan penyatuan sangat alot dan berlangsung molor. Kedua kubu saling memperlihatkan kekuatan masing-masing. Inilah yang sulit karena mereka tidak bermaksud menyelesaikan masalah demi bangsa dan negara tapi sudah bertarung demi menyuarakan pemodal.

Semua sudah paham bahwa sepak bola sudah masuk domain bisnis yang besar. Mereka saling tuding dengan logika penyelamat tapi kenyataan yang terjadi penyelamat pemegang modal besar. Bahkan menteri negara Pemuda dan Olah Raga saja tidak mampu. Bahkan mulai hari (baca:11/12/12) pemerintah sudah pasrah kepada FIFA dalam penyelesaian sepak bola Indonesia.

Ini cerminan bahwa kita bangsa yang belum dewasa. Kita bangsa yang belum bisa meninggalkan kebiasaan jaman penjajahan. Katanya kita negara merdeka namun banyak oknum yang tidak bisa bebas dalam bersuara termasuk dalam sepak bola ini. Mereka tidak sportif dalam mengelola sepak bola, kalau peliut deadline sudah ditiup yang udah harus berdamai harus ada yang diuatamakan yaitu nasib pemain, kedaulatan negara. Orang (baca:oknum di PSSI dan KPSI) yang berjiwa dan bermental sebagai pejabat jaman penjajahan bertindak sebagai pelayan penjajah (baca:pemodal) bukan untuk rakyat. Saya yakin kalau mereka dua kubu itu benar-benar bekerja untuk rakyat dan bangsa Indonesia akan ketemu jalan damai. Orang sudah tidak percaya dengan katanya menyuarakan sepak bola namun kenyataan sering berpindah-pindah kubu. Sadarlah ini untuk rakyat Indonesia bukan untuk pemodal asing. Jangan jadi jonggos pihak asing lagi, mau kembali jaman penjajahan apa???

Pendewasaan dalam mengelola negara sangat diperlukan. Memang ironis sekarang ini. Di tubuh pemerintah (Menpora) kena masalah korupsi, di PSSI bentrok sendiri. Kalau sudah begini rakyat mau mengadu kemana????

Mari berdoa semoga mereka dan sepak bola kita adalah jalan untuk berdamai kemudian bisa berkembangan dan memetik prestasi.